Sastra Jawa Modern Pra Kemerdekaan
Sastra Jawa Modern Pra
Kemerdekaan
Karya sastra
sudah diciptakan orang jauh sebelum orang memikirkan apa hakikat sastra dan apa
nilai serta makna yang terkandung dalam sastra. Sebaliknya, penelitian terhadap
sastra baru dimulai sesudah orang bertanya apa dan dimana nilai dan makna karya
sastra yang dihadapinya. Biasanya mereka berusaha menjawab pertanyaan tersebut
berdasarkan apa hakikat sastra. Sastra sebagai ungkapan Baku dari apa yang
disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang dialami orang tentang kehidupan, apa
yang telah renungkan dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang
menarik minat secara langsung.
Dalam bahasa
Indonesia kata sastra berasal dari bahasa Sanskerta, dari akar kata ‘sas’ yang
dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajar, memberi
petunjuk/instruksi. Akhiran ‘tra’ menunjuk pada alat, sarana sehingga sastra
berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku intruksi atau pengajaran. Kata
sastra yang biasanya diberi awalan ‘su’ yang berarti baik atau indah, sehingga menjadi
susastra. Memiliki arti sebagai pengajaran atau petunjuk yang tertuang dalam
suatu tulisan yang berisi hal-hal yang baik dan indah. Berkaitan sastra Jawa
maka secara praktis mengarah pada suatu bentuk aktivitas tulis menulis dari
para pujangga Jawa dalam mengungkapkan nilai-nilai dan pandangan hidup dalam
lingkup budaya jawa.
Sastra Jawa
Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau
Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi. Para cendekiawan Belanda memberi saran
para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak
selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu munculah
karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel,
dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan. Gaya
bahasa pada masa ini masih mirip dengan Bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya
ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda.
Bagi
rakyat Jawa abad 19 merupakan masa krisis politik dan budaya. Dominasi atas
masyarakat ini semakin kukuh dan tak terkalahkan. Dominasi ini merupakan
tatanan baru yang tidak dapat ditanggulangi. Munculnya andan kelana berbahasa
Jawa pada paruh ke dua abad ini dan keberlangsungannya samai awal abad ke
duapuluh, merupakan kiat beberapa orang Jawa yang berupaya agar seni sastra
mereka dapat diselamatkan untuk mengemban tugas memahami dan menghimpun
kekuatan dari luar. Dalam kaitan ini, andan kelana bersifat ideologis, dalam
pengertian mencari kembali pedoman mereka sendiri, untuk dapat menerima
“keberadaan negeri” mereka dan menempatkannya dalam tata ruang yang mencakup
dan bukan mengesampingkan atau mengabaikan dunia luar. Bersamaan adikodrati semu
yang dapat digapai dalam kenyataan sebagai narator dan pengetahuan dan
kewenangan pribadi yang dapat menguntungkan masyarakat Jawa pada umumnya. Andan
kelana yang tampaknya bergaya Eropa kerajaan lain yang sangat asing. Jadi,
munculnya andan kelana bukan sekedar masalah tekanan pengaruh budaya Eropa
terhadap masyarakat Jawa. Para penulis Jawa menggunakan prakarsa mereka memilih
model umum yang menawarkan jalan kepada mereka, jalan ke arah pemecahan masalah
internal budaya mereka.
Ketika
pada tahun 1922, tahun-tahun awal penerbitan novel, muncul novel Jarot karangan
Jasawidagda dengan tokoh badungnya yang romantis, peristiwa-peristiwanya yang
hidup, gambaran kehidupan sehari-hari yang semarak, bahasanya yang segar tetapi
anggun, dan tokoh-tokoh perorangan yang digambarkan dengan baik, semuanya jelas
menandakan perubahan langsung dari andan kelana ke dalam bentuk novel. Tak
diragukan lagi, karena alasan inilah novel ini menjadi salah satu novel yang
paling populer dan berpengaruh, yang setiap halamannya mempertahankan corak dan
kovensi andan kelana, yang dalam kadar lebih kecil juga ditemukan dalam
kebanyakan novel permulaan lainnya.
Secara khusus ada seseorang yang dalam
kariernya memadukan semua kecenderungan yang secara rumit saling bertautan dan
menghasilkan fenomena baru dalam novel Jawa. Orang ini adalah Ki Padmasusastra
– pengembara, wartawan, cendekiawan, guru, dan orang terkucil – orang yang
sekarang ini desebut bapak sastra Jawa modern. Kisah kehidupannya suatu
gambaran yang kontras dari seorang penulis Jawa yang beralih ke dalam
norma-norma sastra Eropa secara kreatif dan berbeda, tidak hanya untuk
memecahkan krisis-krisis pribadi tetapi juga untuk mencari jalan keluar bagi
masalah-masalah intern dalam masyarakat Jawa. Karena alasan ini perlu juga kita
menengok sekelumit tentang orang ini dan mengulas beberapa dorongan sosial yang
melahirkan karya-karyanya.
Padmasusastra
lahir di Surakarta pada tahun 1843. Ayahnya, Ngabei Bangsayuda, keturunan
pendiri Mataram, Panembahan Senapati, dan menjadi abdi dalem Susuhan Pakubuwana
VII. Padmasusastra adalah bungsu dari dua saudara dan anak laki-laki
satu-satunya. Nama kecilnya Suwardi. Pada usia 6 tahun dia sekolah. Pada usia
sembilan tahun dia sudah bisa memaca dan menulis dalam huruf Jawa dan Latin, kecakapan
yang dianggap sebagai pertanda bakat luar biasa pada saat itu. Menurut beberapa
sumber, pada usia sembilan tahun ia diizinkan mewarisi jabatan ayahnya dan
dianugerahi nama Kartadirana serta gelar Mas Ngabehi, tetapi karena ia masih
muda dan hanya dipanggil Gus Bei. Tetapi tepatnya sebenarnya pada usia itu ia
dilatih oleh ayahnya untuk magang, dan hal ini lazim, baru beberapa tahun
kemudian ia menduduki jabatan ayahnya.
Ketika
berusia kira-kira delapanbelas tahun Kardirana ditunjuk sebagai mantri sadasa (petugas hukum) di bagian
adminitrasi pemerintahan yang disebut gedhong
kiwa (gedung kiri), dan ia dianugerahi nama baru yang sepadan dengan
statusnya yang baru: Ngabei Bangsayuda. Kemudian ia ditunjuk sebagai asisten
jaksa dan beberapa tahun kemudian menjadi jaksa
panewu (jaksa ketua) di gedhong kiwa dan ketua di Dewan Pengadilan di bawah
patih. Lagi-lagi status barunya mengharuskannya untuk berganti nama. Maka
namanya diubah menjadi Ngabei Kartipradata.
Pada
usia kuraang lebih 40 tahun Kartipradata terkena musibah. Ia terjerat hutang
pada mindring Cina, yaitu pedagang
Cina yang menjual barang secara kredit atau dapat juga meminjamkan uang dengan
bunga tinggi. Ia diadukan ke pengadilan dituntut untuk mengembalikan hutangnya.
Jelas Kartipradata tercoreng mukanya, karena tidak hanya dianggap tabu bagi
seorang priayi terlibat hutang,
tetapi hal ini benar-benar merupakan skandal bagi seorang kepala pengadilan
jika ia sendiri yang harus menjadi pesakitan. Akibatnya ia dipecat dari
jabatannya itu.
Kartipradata pindah ke Batavia dengan istri
dan kedua anaknya. Di sana, sekitar tahun 1883, ia memperoleh pekerjaan sebagai
asisten D.F. van der Gymnasium Koning Willem III, bagian B, di Jalan Meester
Cornelis. Seperti orang-orang Belanda yang mengajarkan bahasa Jawa sebelumnya,
van der Pant dihadapkan pada masalah penyediaan bahan ajar yang sesuai untuk
muridnya. Kartiprada membantunya menyediakan bahan tersebut dan mengajar di
kelas sekitar tahun inilah Kartiprada berganti nama menjadi Padmasusastra dan
menyebut dirinya sendiri sebagai tiyang
mardika (orang bebas, dalam arti dia tidak lagi terikat pengabdian terhadap
Susuhunan).
Ketika
van der Pant kembali ke Belanda pada tahun 1988, Padmasusastra kembali ke
Surakarta dan bekerja sebagai staf redaktur majalah berbahasa Jawa Bramartani. Pada tahun 1890 ia berhenti
bekerja dan atas undangan seorang pemilik sekolah, H.A. De Nooy ia pergi ke
Negeri Belanda. Di sana ia bekerja sama dengan De Nooy menyusun daftar kata
bahasa Jawa dengan mencatat ragam penggunaannya di daerah Jawa dengan menulis Serat Urapsari, buku tentang
contoh-contoh percakapan dan memuat informasi mengenai tata krama Jawa yang
diterbitkan di Batavia beberapa tahun kemudian. Kelihatannya Padmasusastra
tidak tahan cuaca serta tidak cocok dengan masakan Belanda sehingga ia segera
pulang ke Surakarta pada bulan Nopember 1891.
Segera
saja Padmasusastra kembali ke Gymnasium Koning Willem III di Batavia sebagai
asisten A.H.J.G. Walbbehm. Walbeehm adalah pegawai sipil yang ditugaskan untuk
mengajarkan bahasa Jawa di Bagian B sekolah tersebut. padmasusastra membantu
Welbeehn yang penuh semangat menyusun sejumlah acuan untuk pelajaran bahasa
Jawa, selain itu ia juga menyusun buku-bukunya sendiri mengenai masalah serupa.
Pada akhir masa penugasannya, Welbeehn kembali ke tugas-tugas sipilnya dan
Padmasusastra kembali lagi ke Surakarta. Di sana ia bergabung dengan staf
redaktur surat kabar berbahasa Jawa, Jawa
Kandha.
Pada
tahun 1890 Patih Sasradiningrat IV yang progresif mendirikan yayasan yang
diberi nama Radya Pustaka yang
berupaya melestarikan dan mengembangkan budaya Jawa. Pada tahun 1899 ia
mendirikan perpustakaan dalam yayasan itu dan mengangkat Padmasusastra untuk
menduduki jabatan bergengsi sebagai pustakawan kepala. Ia ditugasi menangani
dan memperbanyak koleksi karya-karya cetakan dan naskah, serta mengawasi
program pencetakan dan penerbitan jurnal. Walaupun Radya Pustaka secara nominal
merupakan lembaga mandiri, tetap saja yayasan ini berada di bawah naungan
kerajaan, dan pengangkatan Padmasusastra untuk menduduki jabatan pustakawan
berarti pemulihan nama baiknya. Ia diterima kembali sebagai abdi dalem dan
dianugerahi nama Wirapustaka dan gelar Ngabei. Meskipun demikian, ia tetap
menerbitkan karya-karyanya dengan nama samaran Padmasusastra dan tetap menyebut
dirinya sebagai tiyang merdeka.
Selama
bekerja di Radya Pusta, Padmasusastra menyunting jurnal Sasadhara (bulan) dan Candrakanta (Omamen Sastra). Serta
kadang-kadang menerbitkan jurnalnya sendiri Waradharma
(berita kebenaran). Pada tahun 1920 ia diangkat menjadi panewu garap (kepala tata usaha) di
kantor kepala pamong praja dan dianugerahi nama Prajapustaka. Karena sakit,
pada tahun 1924 Padmasusastra pensiun dan dua tahun kemudian ia meninggal pada
usia 82 tahun.
Dalam
permulaan sejarah sastra Jawa modern,
tidak ada satupun tokoh yang menandingi Padmasusastra dalam kegigihan dan
kepiawaian sastranya. Kariernya merupakan lambang dari menyatunya berbagai
ragam pengaruh yang melahirkan sejenis tulisan yang dalam Bahasa Jawa disebut gagrag anyar (gaya baru). Pada awal masa
kariernya, ketika masih mengabdi pada keraton Surakarta, Padmasusastra berguru
kepadda pujangga Raden Ngabei Ranggawarsita (meninggal pada tahun 1873). Di kemudian
hari ia menyebut penyair besar ini sebagai gurunya. Padmasusastra juga kenal
dengan Pangeran Mangkunegara IV (meninggal pada tahun 1881) dan Susuhan Pakubuwana
IX (wafat pada tahun 1891), keduanya merupakan penulis terkenal. Penghargaan Padmasusasatra
atas karya-karya ketiga tokoh ini terbukti dari kegigihannya dalam menyunting
dan menerbitkan beberapa karya mereka. Di antaranya, ia menerbitkan Serat Pustakaraja, Serat Pramayoga, dan Sopanalaya karangan Ranggawarsita
dengan ragamnya sendiri. Ia juga menyunting dan menerbitkan Wara Isywara karya Mangkunegara pada
tahun 1898.
Sampai
sekarang pun hasil pengamatan Padmasusastra pada bahasa dan budaya Jawa masih
sangat berpengaruh. Pembagian unggah-ungguh
ke dalam sejumlah tataran yang berbeda, seperti dipaparkan dalam bukunya Serat Warna Basa dan Serat Urapsari, masih merupakan sumber
utama yang menjadi rujukan bagi guru bahasa Jawa sekarang ini. Serat Tatacara masih dianggap oleh
banyak orang Jawa sebagai karya yang terpercaya di bidangnya dan masih
berfungsi sebagai karya acuan. Jurnal Sasadhara
yang disuntingnya merupakan jurnal
berbahasa Jawa pertama yang secara nyata ditujukan kepada pengembangan bahasa
dan budaya Jawa.
Pada
tahun 1908, pemerintahan Belanda mendirikan Commissie
voor de Volkslectuur (Komisi Bidang Bacaan Populer), yang pada tahun 1917
direorganisasi dan disebut Balai Pustaka. Balai Pustaka diserahi tugas untuk
menyediakan bahan bacaan yang murah dan mudah dibagikan untuk orang-orang
Indonesia yang merupakan produk perluasan kesempatan belajar bagi kaum pribumi
karena adanya apa yang dinamakan Politik Etis. Hal ini tampaknya juga merupakan
suatu kiat untuk mengimbangi meningkatnya apa yang dipandang pemerintah sebagai
bahan-bahan bacaan yang tidak diperkenankan dalam bahasa-bahasa daerah dan yang
diterbitkan oleh para penerbit swasta. Sebagian besar alasan pendirian Balai
Pustaka mengacu pada apa yang dinilai sebagai bahan bacaan yang berbahaya dan
tidak diinginkan pemerintah Belanda
dalam Bahasa Melayu, tetapi pada tahun-tahun awal berdirian badan ini, jumlah
terbitan buku dalam bahasa ini hanya sedikit dan jelas kelihatan upaya
persaingan badan ini ditujukan baik pada karya sastra Jawa maupun Melayu yang
diterbitkan oleh pihak swasta.
Sastra Jawa
tertulis seperti ada di dalam masyarakat sekarang ini dapat dibagi dua bagian:
yaitu sastra tradisional yang terikat oleh patokan-patokan yang ditaati
turun-temurun dari generasi ke generasi, dan sastra modern yang merupakan hasil
dari rangsangan kreatif dalam masyarakat modern. Sastra tertulis tradisional
seagian besar digubah dalam matra macapat (tembang macapat). Di dalam jenis
sastra ini sering digunakan kata-kata puitis khusus (tembang kawi) dan segala
jenis arkaisme. Di samping itu, terdapat pula sejumlah konvensi yang mengatur
perpanjangan atau perpendekan kata-kata beserta kemungkinan untuk menyimpang
dari susunan kata yang wajar, agar dapat memenuhi kebutuhan irama atau matra, setiap
matra memiliki pola atau pola-pola lagunya sendiri bagaimana naskah harus
dinyanyikan. Pemilihan matra dengan lagunya sangat bergantung pada semangat
isinya: didaktik, teguran, nasihat, serius, cinta asmara, nada keras, dan lain
sebagainya. Sejumlah karya dalam matra macapat masih populer dan dinyanyikan
pada kesempatan-kesempatan yang tertentu.
Pada waktu
dan tempat tertentu secara teratur diselenggarakan malam macapat, misalnya
selama selapan, kadang-kadang dengan dukungan lembaga-lembaga resmi,
tetapi juga secara pribadi atau di dalam perkumpulan-perkumpulan. Dengan duduk
bersama-sama, santai, kadang-kadang dalam acara slametan, semua orang
mendengarkan nyanyian oleh salah seorang di antara hadirin yang mendapatkan
giliran “membaca” selama beberapa saat, dan kemudian diadakan waktu istirahat
untuk membicarakan arti ungkapan atau kata-kata tertentu atau makna yang
terkandung dalam bagian naskah yang baru saja dinyanyikan. Naskah-naskah yang
digemari untuk kesempatan-kesempatan semacam itu biasanya karya-karya bersifat
sejarah, misalnya Babad Dipanegara, atau karya-karya yang bersifat
mendidik, seperti Serat Wedatama karangan Mangkunegara IV atau Serat
Wulang Reh karangan Paku Buana IV. Dalam acara siaran yang dipancarkan dari
Studio Radio Republik Indonesia Yogyakarta dan Surakarta, tembang macapat
merupakan acara tetap. Jenis puisi ini masih dianggap sangat tinggi nilainya,
bahkan dianggap “sangat indah dan adiluhung”, dan juga dianggap mengandung
“arti filsafat yang sangat dalam”. Mengingat sifatnya yang khas sebagai sastra
tertulis dari masa lampau beserta nilai adiluhung yang diberikan kepadanya,
sepantasnyalah kalau jenis sastra ini dianggap sebagai “sastra klasik”.
Jenis-jenis
sastra lisan, disamping sifatnya yang bercorak tradisional, juga mempunyai segi
yang boleh dinamakan “modern”. Disebut tradisional karena isi ceritanya
biasanya mempunyai hubungan dengan naskah-naskah tertentu dari sastra klasik.
Disamping itu, tektik pergelaran, yang sering terikat oleh kaidah-kaidah
lama yang keras, biasanya menunjukkan pula unsur tradisional yang sangat jelas.
Di pihak lain, sebuah pertunjukkan dapat juga merupakan karya seni yang unik
dan modern yang di wujudkan secara lisan, yaitu jikalau dalam pergelaran itu
ditampilkan adaptasi cerita yang mengandung “pasemon” spontan dan yang
mempunyai nilai artistik yang ditentukan oleh kreatifitas pribadi si pelaksana,
oleh cita rasa masyarakat yang berubah-ubah serta oleh faktor-faktor lingkungan
dan ikatan waktu.
Yang sangat kuat
bersifat tradisional ialah permainan dalang dalam wayang kulit. Ki dalang,
walaupun hanya seorang dalang desa yang tidak terpelajar, oleh para penontonnya
dianggap ahli seni sastra. Seorang diri ia menyajikan pergelaran drama dalam
rangkaian adegan yang berisi unsur-unsur penceritaan dan lukisan yang bersifat
stereotipe, diungkapkan dengan bahasa puisi yang kuno, dialog-dialog yang
setengah stereotipe setengah bersifat improvisasi, berganti dengan
bagian-bagian naratif dan diselang-seling dengan sajak kuno (suluk). Sementara
itu, pada bagian tertentu ketegangan permainannya dikendurkannya dengan
selingan-selingan yang jenaka (banyolan). Bahan utama untuk pergelaran ini
diambil dari kisah-kisah dalam siklus Pandawa dan Rama, dipertunjukkan atas
dasar garis-garis besar cerita (balungan) yang diturunkan sebagian secara lisan
dan sebagian secara tertulis. Disini terdapat hubungan langsung dengan sastra
klasik melalui buku-buku yang disebut serat Kandaning Ringgit Purwa yaitu
“buku cerita untuk wayang purwa”, tetapi juga terdapat versi-versi dalam
tembang macapat yang mengandung drama tunggal atau mengandung sejumlah drama
yang sama-sama merupakan kesatuan narativ yang lebih luas.
Di bidang
wayang, sejarah, dan dongeng S.Prabaharjana, S. Padma Sukaca, dan S. Darmaatmaja
termasuk penulis-penulis terkemuka. Masalah yang masih tetap sulit di bidang
ini ialah untuk menentukan tulisan nama yang jelas bersifat jurnalistik dan mana
yang harus dianggap sebagai sastra. Demikian pula Siswaharsaya pada tahun-tahun
lima puluhan akhir dan tahun-tahun enam puluhan menerbitkan sejumlah lakon
wayang yang sangat bagus sehingga menimbulkan keraguan apakah naskah-naskah ini
harus digolongkan sebagai karya sastra ataukah sebagai buku-buku pakem. Masalah
yang sama juga kita hadapi dengan beberapa naskah wayang yang ditulis dengan
sangat bagus oleh Karkana Kamajaya, S.Prabaharjana, Sumantri Sumasaputra,
Kodiron, dan lain-lainnya. Penulis-penulis itu umumnya termasuk generasi yang
lahir antara tahun 1900 dan 1930, tetapi rekan-rekannya yang lebih muda telah
siap meneruskan pekerjaan mereka.
Ada beberapa
penulis muda yang tema-temanya meminjam dari naskah-naskah babad dan dari
dongeng yang kerap kali disampaikan secara lisan, yaitu untuk menulis roman
babad dan cerita-cerita romantik lainnya tentang tokoh-tokoh legendaris. Dalam
berbuat demikian mereka mendekatkan diri dengan pemimpin-pemimpin rombongan
ketoprak atau sutradaranya. Dan apabila mereka mulai menulis naskah-naskah
untuk panggung, maka garis pemisah itu lenyap sama sekiali. Ini membuktikan
kita harus berhati-hati dalam menarik garis pemisah tajam yang membedakan
sastra tradisional dan modern. Telah ternyata bahwa kebudayaan Jawa mampu
menyerap unsur-unsur asing dengan cara yang sangat bebas, tanpa kehilangan
ciri-cirinya sendiri. Dengan cara seperti itu pulalah kiranya sastra Jawa pada
abad ke-20 ini telah lenyap genre-genre asing, seperti novel, cerita pendek,
sajak bebas dan lakon panggung modern, tetapi sementara itu akan berhasil
memelihara bentuk-bentuk dan tema-tema tradisional yang diwarisi dari
jaman-jaman sebelumnya. Bahkan ciri lisan pada sebagian sastra Jawa pun tidak
akan hilang. Industri kaset yang berkembang subur itu telah membuktikannya.
Daftar Pustaka:
RASS,JJ.
1985. Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir. Jakarta: PT Grafitipers
Quinn George. 1995. Novel Berbahasa Jawa. Diterjemahkan oleh Raminah Baribin. Semarang :
IKIP Semarang Press
1. Pada kalimat ini "Peristiwa-peristiwa terpenting yang berpengaruh terhadap masyarakat Jawa dalam abad ini adalah 1. Penambahan jumlah penduduk yang pesat sekali 2. Jumlah melek huruf yang semakin bertambah sejak kira-kira tahun 1900; karena kedua hal tersebut memang telah mengakibatkan adanya perubahan masyarakat yang sangat besar, termasuk perkembangan-perkembangan sepertikebangkitan nasionalisme, derap ke arah kemerdekaan, serta semakin lenyapnya hubungan masyarakat." seharusnya diberi enter pada setiap satu nomor supaya lebih jelas dan mudah dipahami oleh pembaca.
BalasHapus2. Penggunaan kata penghubung pada kalimat " Maka, lalu munculah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan." seharusnya menggunakan salah satu kata penghubung saja misalkan saja kata "maka" dihilangkan saja. ( Ari Fitrianingrum)
Kata "jawa" seharusnya menggunakan huruf J.
BalasHapusPenapat ?
Kata "tertululis" yang benar adalah "tertulis".
Kata "seagian" yang benar adalah "sebagian".
Kata "sangatbergantung" harus dispasi supaya pembaca mudah memahaminya "sangat bergantung". (Chindria)
mas lemon, ini yang ditulis bukan Sastra Jawa Modern, tapi Sastra Jawa Klasik. yang mengulas mengenai sastra jawa modern hanya dua paragraf di paling akhir. Perbaiki! (Widodo)
BalasHapusuntuk penulisan daftar pustaka dari internet sepengetahuan saya sebaiknya ditulis, nama yang unggah, tahun, judul, alamat blog, diakses pada tanggal dan jam berapa, (Nur karisma)
BalasHapus