Sastra Jawa Modern Pra Kemerdekaan

Sastra Jawa Modern Pra Kemerdekaan


Karya sastra sudah diciptakan orang jauh sebelum orang memikirkan apa hakikat sastra dan apa nilai serta makna yang terkandung dalam sastra. Sebaliknya, penelitian terhadap sastra baru dimulai sesudah orang bertanya apa dan dimana nilai dan makna karya sastra yang dihadapinya. Biasanya mereka berusaha menjawab pertanyaan tersebut berdasarkan apa hakikat sastra. Sastra sebagai ungkapan Baku dari apa yang disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang dialami orang tentang kehidupan, apa yang telah renungkan dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang menarik minat secara langsung.
Dalam bahasa Indonesia kata sastra berasal dari bahasa Sanskerta, dari akar kata ‘sas’ yang dalam kata kerja turunan berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk/instruksi. Akhiran ‘tra’ menunjuk pada alat, sarana sehingga sastra berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku intruksi atau pengajaran. Kata sastra yang biasanya diberi awalan ‘su’ yang berarti baik atau indah, sehingga menjadi susastra. Memiliki arti sebagai pengajaran atau petunjuk yang tertuang dalam suatu tulisan yang berisi hal-hal yang baik dan indah. Berkaitan sastra Jawa maka secara praktis mengarah pada suatu bentuk aktivitas tulis menulis dari para pujangga Jawa dalam mengungkapkan nilai-nilai dan pandangan hidup dalam lingkup budaya jawa.
Sastra Jawa Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi. Para cendekiawan Belanda memberi saran para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu munculah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan. Gaya bahasa pada masa ini masih mirip dengan Bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda.
Bagi rakyat Jawa abad 19 merupakan masa krisis politik dan budaya. Dominasi atas masyarakat ini semakin kukuh dan tak terkalahkan. Dominasi ini merupakan tatanan baru yang tidak dapat ditanggulangi. Munculnya andan kelana berbahasa Jawa pada paruh ke dua abad ini dan keberlangsungannya samai awal abad ke duapuluh, merupakan kiat beberapa orang Jawa yang berupaya agar seni sastra mereka dapat diselamatkan untuk mengemban tugas memahami dan menghimpun kekuatan dari luar. Dalam kaitan ini, andan kelana bersifat ideologis, dalam pengertian mencari kembali pedoman mereka sendiri, untuk dapat menerima “keberadaan negeri” mereka dan menempatkannya dalam tata ruang yang mencakup dan bukan mengesampingkan atau mengabaikan dunia luar. Bersamaan adikodrati semu yang dapat digapai dalam kenyataan sebagai narator dan pengetahuan dan kewenangan pribadi yang dapat menguntungkan masyarakat Jawa pada umumnya. Andan kelana yang tampaknya bergaya Eropa kerajaan lain yang sangat asing. Jadi, munculnya andan kelana bukan sekedar masalah tekanan pengaruh budaya Eropa terhadap masyarakat Jawa. Para penulis Jawa menggunakan prakarsa mereka memilih model umum yang menawarkan jalan kepada mereka, jalan ke arah pemecahan masalah internal budaya mereka.
Ketika pada tahun 1922, tahun-tahun awal penerbitan novel, muncul novel Jarot karangan Jasawidagda dengan tokoh badungnya yang romantis, peristiwa-peristiwanya yang hidup, gambaran kehidupan sehari-hari yang semarak, bahasanya yang segar tetapi anggun, dan tokoh-tokoh perorangan yang digambarkan dengan baik, semuanya jelas menandakan perubahan langsung dari andan kelana ke dalam bentuk novel. Tak diragukan lagi, karena alasan inilah novel ini menjadi salah satu novel yang paling populer dan berpengaruh, yang setiap halamannya mempertahankan corak dan kovensi andan kelana, yang dalam kadar lebih kecil juga ditemukan dalam kebanyakan novel permulaan lainnya.
  Secara khusus ada seseorang yang dalam kariernya memadukan semua kecenderungan yang secara rumit saling bertautan dan menghasilkan fenomena baru dalam novel Jawa. Orang ini adalah Ki Padmasusastra – pengembara, wartawan, cendekiawan, guru, dan orang terkucil – orang yang sekarang ini desebut bapak sastra Jawa modern. Kisah kehidupannya suatu gambaran yang kontras dari seorang penulis Jawa yang beralih ke dalam norma-norma sastra Eropa secara kreatif dan berbeda, tidak hanya untuk memecahkan krisis-krisis pribadi tetapi juga untuk mencari jalan keluar bagi masalah-masalah intern dalam masyarakat Jawa. Karena alasan ini perlu juga kita menengok sekelumit tentang orang ini dan mengulas beberapa dorongan sosial yang melahirkan karya-karyanya.
Padmasusastra lahir di Surakarta pada tahun 1843. Ayahnya, Ngabei Bangsayuda, keturunan pendiri Mataram, Panembahan Senapati, dan menjadi abdi dalem Susuhan Pakubuwana VII. Padmasusastra adalah bungsu dari dua saudara dan anak laki-laki satu-satunya. Nama kecilnya Suwardi. Pada usia 6 tahun dia sekolah. Pada usia sembilan tahun dia sudah bisa memaca dan menulis dalam huruf Jawa dan Latin, kecakapan yang dianggap sebagai pertanda bakat luar biasa pada saat itu. Menurut beberapa sumber, pada usia sembilan tahun ia diizinkan mewarisi jabatan ayahnya dan dianugerahi nama Kartadirana serta gelar Mas Ngabehi, tetapi karena ia masih muda dan hanya dipanggil Gus Bei. Tetapi tepatnya sebenarnya pada usia itu ia dilatih oleh ayahnya untuk magang, dan hal ini lazim, baru beberapa tahun kemudian ia menduduki jabatan ayahnya.
Ketika berusia kira-kira delapanbelas tahun Kardirana ditunjuk sebagai mantri sadasa (petugas hukum) di bagian adminitrasi pemerintahan yang disebut gedhong kiwa (gedung kiri), dan ia dianugerahi nama baru yang sepadan dengan statusnya yang baru: Ngabei Bangsayuda. Kemudian ia ditunjuk sebagai asisten jaksa dan beberapa tahun kemudian menjadi jaksa panewu (jaksa ketua) di gedhong kiwa dan ketua di Dewan Pengadilan di bawah patih. Lagi-lagi status barunya mengharuskannya untuk berganti nama. Maka namanya diubah menjadi Ngabei Kartipradata.
Pada usia kuraang lebih 40 tahun Kartipradata terkena musibah. Ia terjerat hutang pada mindring Cina, yaitu pedagang Cina yang menjual barang secara kredit atau dapat juga meminjamkan uang dengan bunga tinggi. Ia diadukan ke pengadilan dituntut untuk mengembalikan hutangnya. Jelas Kartipradata tercoreng mukanya, karena tidak hanya dianggap tabu bagi seorang priayi terlibat hutang, tetapi hal ini benar-benar merupakan skandal bagi seorang kepala pengadilan jika ia sendiri yang harus menjadi pesakitan. Akibatnya ia dipecat dari jabatannya itu.
 Kartipradata pindah ke Batavia dengan istri dan kedua anaknya. Di sana, sekitar tahun 1883, ia memperoleh pekerjaan sebagai asisten D.F. van der Gymnasium Koning Willem III, bagian B, di Jalan Meester Cornelis. Seperti orang-orang Belanda yang mengajarkan bahasa Jawa sebelumnya, van der Pant dihadapkan pada masalah penyediaan bahan ajar yang sesuai untuk muridnya. Kartiprada membantunya menyediakan bahan tersebut dan mengajar di kelas sekitar tahun inilah Kartiprada berganti nama menjadi Padmasusastra dan menyebut dirinya sendiri sebagai tiyang mardika (orang bebas, dalam arti dia tidak lagi terikat pengabdian terhadap Susuhunan).
Ketika van der Pant kembali ke Belanda pada tahun 1988, Padmasusastra kembali ke Surakarta dan bekerja sebagai staf redaktur majalah berbahasa Jawa Bramartani. Pada tahun 1890 ia berhenti bekerja dan atas undangan seorang pemilik sekolah, H.A. De Nooy ia pergi ke Negeri Belanda. Di sana ia bekerja sama dengan De Nooy menyusun daftar kata bahasa Jawa dengan mencatat ragam penggunaannya di daerah Jawa dengan menulis Serat Urapsari, buku tentang contoh-contoh percakapan dan memuat informasi mengenai tata krama Jawa yang diterbitkan di Batavia beberapa tahun kemudian. Kelihatannya Padmasusastra tidak tahan cuaca serta tidak cocok dengan masakan Belanda sehingga ia segera pulang ke Surakarta pada bulan Nopember 1891.
Segera saja Padmasusastra kembali ke Gymnasium Koning Willem III di Batavia sebagai asisten A.H.J.G. Walbbehm. Walbeehm adalah pegawai sipil yang ditugaskan untuk mengajarkan bahasa Jawa di Bagian B sekolah tersebut. padmasusastra membantu Welbeehn yang penuh semangat menyusun sejumlah acuan untuk pelajaran bahasa Jawa, selain itu ia juga menyusun buku-bukunya sendiri mengenai masalah serupa. Pada akhir masa penugasannya, Welbeehn kembali ke tugas-tugas sipilnya dan Padmasusastra kembali lagi ke Surakarta. Di sana ia bergabung dengan staf redaktur surat kabar berbahasa Jawa, Jawa Kandha.
Pada tahun 1890 Patih Sasradiningrat IV yang progresif mendirikan yayasan yang diberi nama Radya Pustaka yang berupaya melestarikan dan mengembangkan budaya Jawa. Pada tahun 1899 ia mendirikan perpustakaan dalam yayasan itu dan mengangkat Padmasusastra untuk menduduki jabatan bergengsi sebagai pustakawan kepala. Ia ditugasi menangani dan memperbanyak koleksi karya-karya cetakan dan naskah, serta mengawasi program pencetakan dan penerbitan jurnal. Walaupun Radya Pustaka secara nominal merupakan lembaga mandiri, tetap saja yayasan ini berada di bawah naungan kerajaan, dan pengangkatan Padmasusastra untuk menduduki jabatan pustakawan berarti pemulihan nama baiknya. Ia diterima kembali sebagai abdi dalem dan dianugerahi nama Wirapustaka dan gelar Ngabei. Meskipun demikian, ia tetap menerbitkan karya-karyanya dengan nama samaran Padmasusastra dan tetap menyebut dirinya sebagai tiyang merdeka.
Selama bekerja di Radya Pusta, Padmasusastra menyunting jurnal Sasadhara (bulan) dan  Candrakanta (Omamen Sastra). Serta kadang-kadang menerbitkan jurnalnya sendiri Waradharma (berita kebenaran). Pada tahun 1920 ia diangkat menjadi panewu garap (kepala tata usaha) di kantor kepala pamong praja dan dianugerahi nama Prajapustaka. Karena sakit, pada tahun 1924 Padmasusastra pensiun dan dua tahun kemudian ia meninggal pada usia 82 tahun.
Dalam  permulaan sejarah sastra Jawa modern, tidak ada satupun tokoh yang menandingi Padmasusastra dalam kegigihan dan kepiawaian sastranya. Kariernya merupakan lambang dari menyatunya berbagai ragam pengaruh yang melahirkan sejenis tulisan yang dalam Bahasa Jawa disebut gagrag anyar (gaya baru). Pada awal masa kariernya, ketika masih mengabdi pada keraton Surakarta, Padmasusastra berguru kepadda pujangga Raden Ngabei Ranggawarsita (meninggal pada tahun 1873). Di kemudian hari ia menyebut penyair besar ini sebagai gurunya. Padmasusastra juga kenal dengan Pangeran Mangkunegara IV (meninggal pada tahun 1881) dan Susuhan Pakubuwana IX (wafat pada tahun 1891), keduanya merupakan penulis terkenal. Penghargaan Padmasusasatra atas karya-karya ketiga tokoh ini terbukti dari kegigihannya dalam menyunting dan menerbitkan beberapa karya mereka. Di antaranya, ia menerbitkan Serat Pustakaraja, Serat Pramayoga, dan Sopanalaya karangan Ranggawarsita dengan ragamnya sendiri. Ia juga menyunting dan menerbitkan Wara Isywara karya Mangkunegara pada tahun 1898.
Sampai sekarang pun hasil pengamatan Padmasusastra pada bahasa dan budaya Jawa masih sangat berpengaruh. Pembagian unggah-ungguh ke dalam sejumlah tataran yang berbeda, seperti dipaparkan dalam bukunya Serat Warna Basa dan Serat Urapsari, masih merupakan sumber utama yang menjadi rujukan bagi guru bahasa Jawa sekarang ini. Serat Tatacara masih dianggap oleh banyak orang Jawa sebagai karya yang terpercaya di bidangnya dan masih berfungsi sebagai karya acuan. Jurnal Sasadhara  yang disuntingnya merupakan jurnal berbahasa Jawa pertama yang secara nyata ditujukan kepada pengembangan bahasa dan budaya Jawa.
Pada tahun 1908, pemerintahan Belanda mendirikan Commissie voor de Volkslectuur (Komisi Bidang Bacaan Populer), yang pada tahun 1917 direorganisasi dan disebut Balai Pustaka. Balai Pustaka diserahi tugas untuk menyediakan bahan bacaan yang murah dan mudah dibagikan untuk orang-orang Indonesia yang merupakan produk perluasan kesempatan belajar bagi kaum pribumi karena adanya apa yang dinamakan Politik Etis. Hal ini tampaknya juga merupakan suatu kiat untuk mengimbangi meningkatnya apa yang dipandang pemerintah sebagai bahan-bahan bacaan yang tidak diperkenankan dalam bahasa-bahasa daerah dan yang diterbitkan oleh para penerbit swasta. Sebagian besar alasan pendirian Balai Pustaka mengacu pada apa yang dinilai sebagai bahan bacaan yang berbahaya dan tidak diinginkan  pemerintah Belanda dalam Bahasa Melayu, tetapi pada tahun-tahun awal berdirian badan ini, jumlah terbitan buku dalam bahasa ini hanya sedikit dan jelas kelihatan upaya persaingan badan ini ditujukan baik pada karya sastra Jawa maupun Melayu yang diterbitkan oleh pihak swasta.

Sastra Jawa tertulis seperti ada di dalam masyarakat sekarang ini dapat dibagi dua bagian: yaitu sastra tradisional yang terikat oleh patokan-patokan yang ditaati turun-temurun dari generasi ke generasi, dan sastra modern yang merupakan hasil dari rangsangan kreatif dalam masyarakat modern. Sastra tertulis tradisional seagian besar digubah dalam matra macapat (tembang macapat). Di dalam jenis sastra ini sering digunakan kata-kata puitis khusus (tembang kawi) dan segala jenis arkaisme. Di samping itu, terdapat pula sejumlah konvensi yang mengatur perpanjangan atau perpendekan kata-kata beserta kemungkinan untuk menyimpang dari susunan kata yang wajar, agar dapat memenuhi kebutuhan irama atau matra, setiap matra memiliki pola atau pola-pola lagunya sendiri bagaimana naskah harus dinyanyikan. Pemilihan matra dengan lagunya sangat bergantung pada semangat isinya: didaktik, teguran, nasihat, serius, cinta asmara, nada keras, dan lain sebagainya. Sejumlah karya dalam matra macapat masih populer dan dinyanyikan pada kesempatan-kesempatan yang tertentu.
Pada waktu dan tempat tertentu secara teratur diselenggarakan malam macapat, misalnya selama selapan, kadang-kadang dengan dukungan lembaga-lembaga resmi, tetapi juga secara pribadi atau di dalam perkumpulan-perkumpulan. Dengan duduk bersama-sama, santai, kadang-kadang dalam acara slametan, semua orang mendengarkan nyanyian oleh salah seorang di antara hadirin yang mendapatkan giliran “membaca” selama beberapa saat, dan kemudian diadakan waktu istirahat untuk membicarakan arti ungkapan atau kata-kata tertentu atau makna yang terkandung dalam bagian naskah yang baru saja dinyanyikan. Naskah-naskah yang digemari untuk kesempatan-kesempatan semacam itu biasanya karya-karya bersifat sejarah, misalnya Babad Dipanegara, atau karya-karya yang bersifat mendidik, seperti Serat Wedatama karangan Mangkunegara IV atau Serat Wulang Reh karangan Paku Buana IV. Dalam acara siaran yang dipancarkan dari Studio Radio Republik Indonesia Yogyakarta dan Surakarta, tembang macapat merupakan acara tetap. Jenis puisi ini masih dianggap sangat tinggi nilainya, bahkan dianggap “sangat indah dan adiluhung”, dan juga dianggap mengandung “arti filsafat yang sangat dalam”. Mengingat sifatnya yang khas sebagai sastra tertulis dari masa lampau beserta nilai adiluhung yang diberikan kepadanya, sepantasnyalah kalau jenis sastra ini dianggap sebagai “sastra klasik”.
Jenis-jenis sastra lisan, disamping sifatnya yang bercorak tradisional, juga mempunyai segi yang boleh dinamakan “modern”. Disebut tradisional karena isi ceritanya biasanya mempunyai hubungan dengan naskah-naskah tertentu dari sastra klasik. Disamping itu, tektik pergelaran, yang sering terikat oleh kaidah-kaidah lama yang keras, biasanya menunjukkan pula unsur tradisional yang sangat jelas. Di pihak lain, sebuah pertunjukkan dapat juga merupakan karya seni yang unik dan modern yang di wujudkan secara lisan, yaitu jikalau dalam pergelaran itu ditampilkan adaptasi cerita yang mengandung “pasemon” spontan dan yang mempunyai nilai artistik yang ditentukan oleh kreatifitas pribadi si pelaksana, oleh cita rasa masyarakat yang berubah-ubah serta oleh faktor-faktor lingkungan dan ikatan waktu.
Yang sangat kuat bersifat tradisional ialah permainan dalang dalam wayang kulit. Ki dalang, walaupun hanya seorang dalang desa yang tidak terpelajar, oleh para penontonnya dianggap ahli seni sastra. Seorang diri ia menyajikan pergelaran drama dalam rangkaian adegan yang berisi unsur-unsur penceritaan dan lukisan yang bersifat stereotipe, diungkapkan dengan bahasa puisi yang kuno, dialog-dialog yang setengah stereotipe setengah bersifat improvisasi, berganti dengan bagian-bagian naratif dan diselang-seling dengan sajak kuno (suluk). Sementara itu, pada bagian tertentu ketegangan permainannya dikendurkannya dengan selingan-selingan yang jenaka (banyolan). Bahan utama untuk pergelaran ini diambil dari kisah-kisah dalam siklus Pandawa dan Rama, dipertunjukkan atas dasar garis-garis besar cerita (balungan) yang diturunkan sebagian secara lisan dan sebagian secara tertulis. Disini terdapat hubungan langsung dengan sastra klasik melalui buku-buku yang disebut serat Kandaning Ringgit Purwa yaitu “buku cerita untuk wayang purwa”, tetapi juga terdapat versi-versi dalam tembang macapat yang mengandung drama tunggal atau mengandung sejumlah drama yang sama-sama merupakan kesatuan narativ yang lebih luas.
Di bidang wayang, sejarah, dan dongeng S.Prabaharjana, S. Padma Sukaca, dan S. Darmaatmaja termasuk penulis-penulis terkemuka. Masalah yang masih tetap sulit di bidang ini ialah untuk menentukan tulisan nama yang jelas bersifat jurnalistik dan mana yang harus dianggap sebagai sastra. Demikian pula Siswaharsaya pada tahun-tahun lima puluhan akhir dan tahun-tahun enam puluhan menerbitkan sejumlah lakon wayang yang sangat bagus sehingga menimbulkan keraguan apakah naskah-naskah ini harus digolongkan sebagai karya sastra ataukah sebagai buku-buku pakem. Masalah yang sama juga kita hadapi dengan beberapa naskah wayang yang ditulis dengan sangat bagus oleh Karkana Kamajaya, S.Prabaharjana, Sumantri Sumasaputra, Kodiron, dan lain-lainnya. Penulis-penulis itu umumnya termasuk generasi yang lahir antara tahun 1900 dan 1930, tetapi rekan-rekannya yang lebih muda telah siap meneruskan pekerjaan mereka.
Ada beberapa penulis muda yang tema-temanya meminjam dari naskah-naskah babad dan dari dongeng yang kerap kali disampaikan secara lisan, yaitu untuk menulis roman babad dan cerita-cerita romantik lainnya tentang tokoh-tokoh legendaris. Dalam berbuat demikian mereka mendekatkan diri dengan pemimpin-pemimpin rombongan ketoprak atau sutradaranya. Dan apabila mereka mulai menulis naskah-naskah untuk panggung, maka garis pemisah itu lenyap sama sekiali. Ini membuktikan kita harus berhati-hati dalam menarik garis pemisah tajam yang membedakan sastra tradisional dan modern. Telah ternyata bahwa kebudayaan Jawa mampu menyerap unsur-unsur asing dengan cara yang sangat bebas, tanpa kehilangan ciri-cirinya sendiri. Dengan cara seperti itu pulalah kiranya sastra Jawa pada abad ke-20 ini telah lenyap genre-genre asing, seperti novel, cerita pendek, sajak bebas dan lakon panggung modern, tetapi sementara itu akan berhasil memelihara bentuk-bentuk dan tema-tema tradisional yang diwarisi dari jaman-jaman sebelumnya. Bahkan ciri lisan pada sebagian sastra Jawa pun tidak akan hilang. Industri kaset yang berkembang subur itu telah membuktikannya.






Daftar Pustaka:
RASS,JJ. 1985. Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir. Jakarta: PT Grafitipers
Quinn George. 1995. Novel Berbahasa Jawa. Diterjemahkan oleh Raminah Baribin. Semarang : IKIP Semarang Press

Komentar

  1. 1. Pada kalimat ini "Peristiwa-peristiwa terpenting yang berpengaruh terhadap masyarakat Jawa dalam abad ini adalah 1. Penambahan jumlah penduduk yang pesat sekali 2. Jumlah melek huruf yang semakin bertambah sejak kira-kira tahun 1900; karena kedua hal tersebut memang telah mengakibatkan adanya perubahan masyarakat yang sangat besar, termasuk perkembangan-perkembangan sepertikebangkitan nasionalisme, derap ke arah kemerdekaan, serta semakin lenyapnya hubungan masyarakat." seharusnya diberi enter pada setiap satu nomor supaya lebih jelas dan mudah dipahami oleh pembaca.
    2. Penggunaan kata penghubung pada kalimat " Maka, lalu munculah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan." seharusnya menggunakan salah satu kata penghubung saja misalkan saja kata "maka" dihilangkan saja. ( Ari Fitrianingrum)

    BalasHapus
  2. Kata "jawa" seharusnya menggunakan huruf J.
    Penapat ?
    Kata "tertululis" yang benar adalah "tertulis".
    Kata "seagian" yang benar adalah "sebagian".
    Kata "sangatbergantung" harus dispasi supaya pembaca mudah memahaminya "sangat bergantung". (Chindria)

    BalasHapus
  3. mas lemon, ini yang ditulis bukan Sastra Jawa Modern, tapi Sastra Jawa Klasik. yang mengulas mengenai sastra jawa modern hanya dua paragraf di paling akhir. Perbaiki! (Widodo)

    BalasHapus
  4. untuk penulisan daftar pustaka dari internet sepengetahuan saya sebaiknya ditulis, nama yang unggah, tahun, judul, alamat blog, diakses pada tanggal dan jam berapa, (Nur karisma)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Sastra Jawa Modern Pra Kemerdekaan

Sastra Jawa Modern Pra Kemerdekaan