Perkembangan Karya Sastra Jawa Prakemerdekaan
Sastra
jawa tulis bermulai pada tahun 856 dengan teks puisi yang ditulis pada batu
dengan cara di pahat, sekarang batu tersebut disimpan dalam museum jakarta,
semua tulisannya ditulis dengan bahasa sansekerta India. Fakta atau bukti
tersebut membuktikan bahwa ada data yang penting dari sejarah kebudayaan Jawa,
mengingatkan bahwa memang tanah Jawa kaya akan hasil buminya karena keadaan
geografisnya.
Menurut
Khazanah kesusastraan Melayu kuno tradisi sastra lisan baik syair maupun prosa
merupakan kekhasan corak tersendiri yang mempunyai jalan tersendiri lumayan
panjang. Dalam perjalanannya, sastra lisan mengungkapkan bentuk dari
tempat-tempat pada masing-masing daerah, karena pastinya masing-masing daerah
memiliki corak adat tersendiri dan memiliki kekhasan yang berbeda-beda. Sastra
lisan telah bertahan cukup lama dalam menemani sejarah sastra Indonesia, sastra
lisan adalah salah satu perwujudan sastra yang memiliki kekhasan.
Sastra
Jawa dianggap oleh Peneliti Sosiologi
bahwa sumber segala hal yang berhubungan dengan tingkah laku manusia, hidup
manusia, batasan-batasan yang terjadi dalam masyarakat. Namun sosiologi sastra
sering melupakan atau mengabaikan perihal yang terjadi pada karya-karya sastra.
Semata-mata lebih menyibukkaan diri dengan karya sastra dan para pengarangnya, serta
melalaikan keberagaman karya sastra padahal karya sastra tersebut juga
membutuhkan perhatian khusus. Padahal sejatinya karya sastra terbentuk karena
masyarakat yang beraneka ragam, khususnya pada masyarakat jawa yang yang
memiliki pola pikir yang rumit dan sangat menarik untuk di teliti, karena
masyarakat jawa mengalami perubahan terus menerus dari masa ke masa sekarang.
Sastra
Jawa Kuno adalah suatu karya yang ditulis menggunakan bahasa jawa kuno sekitar
pada abad ke-9 sampai dengan abag ke-14 masehi. Karya-karya sastra jawa yang
paling penting para periode ini adalah Candakarana,Kakawin
ramayana, dan terjemahan Mahabarata
dalam bahasa Jawa Kuno.
Dari
peristiwa penambahan jumlah penduduk dan bertambahnya jumlah masyarakat yang
melek huruf termasuk dalam perkembangan pada era nasionalisme yang hilangnya
hubugan masyarakat feodalisme. Sementara itu, bermunculan aliran-aliran karya
sastra baru yang dipengaruhi oleh masyarakat barat yang perubahannya sangat
berbeda dengan karya sebelumnya. Namun pada masyarakat yang nonpelajar masih
dapat mempopulerkan karya sastra lisan bahkan pengaruh tersebut sangat kuat di
kalangan masyarakat. Dan sampai saat
ini, orang jawa atau masyarakat jawa masih menganggap bahwa karya sastra hanya
untuk didengar bukan untuk dibaca. Padahal persepsinya, dengan mendengar kita
harus membaca terlebih dahulu kemudian berusaha membaca dan mulai memahaminya
untuk mencari informasi, kalau hanya untuk mendengar, sama saja dengan kita
hanya mencari hiburan semata.
Pada
saat setelah kemerdekaan diresmikannya bahasa Indonesia walaupun bahasa
tersebut adalah bukan bahasa nomor satu, masyarakat masih terpaut pada bahasa
Ibu. Namun bahasa Indonesia sudah sangat populer seperti halnya bahasa Belanda.
Saat masa periode “Demokrasi” telah
membawa perkembangan prosa dan puisi. Pendukung sastra jawa seperti Trisno Sumardjo, W.S Rendra, Nh Dini,
dan pengarang lainnya. Suatu daerah pasti memiliki ciri khas masing-masing,
karya sastra modern lahir dengan adanya kaum elite, mereka memperjuangkan untuk
memperoleh emansipasi, namun dalam cara pandangan mereka masih kerap kurang
modern.
Sastra
lisan dapat berupa kentrung, wayang wong, wayang golek, wayang kulit, ketoprak
dan ludruk. Semuanya bentuk sastra lisan yang masih dipelajari oleh sastra
modern. Karena cara penyampaian dan sinopsis yang mudah diingat di kepala.
Lambat laun produksi naskah sastra berbahasa Jawa sangat berkurang, bahkan
orang beranggapan bahwa orang Jawa sudah tidak memiliki sastra yang hidup di
dalam bahasa diri sendiri. Ada pandangan bahwa setelah meninggalnya Ranggawarsita (1802-1874)sastra Jawa
tidak mempunyai karya lagi dan sastra Jawa pun berakhir. Namun pandangan
tersebut sangat salah, karena Ranggawarsita
hidup dengan bekerja sama dengan orang yang berada diluar istana, jadi banyak
orang yang berkaitan dengan perkembangan sastra Jawa.
Sastra
Jawa tulis dibagi menjadi dua, yaitu yang pertama sastra tradisional yang
isinya berkaitan dengan tembang macapat, tembang macapat terdapat setiap matra
memiliki pola dan lagunya sendiri bagaimana harus dinyayikan. Diselenggarakan
pada tempat-tempat tertentu dan waktu tertentu, bahkan kadang sebagai acara kelembagaan
resmi dan untuk acara pribadi. Yang kedua sastra modern, sastra modern berisi
hasil rangsangan dari pikiran kreatif masyarakat modern. Dalam hal berkumpul pasti orang menggemari
kesempatan seperti karya-karya sejarah yaitu babad, serat. Serat yang paling
dikagumi adalah Serat Wedhatama
karangan Mangkunegara IV atau Serat Wulangreh karangan Paku Buwana IV. Tembang Macapat adalah
acara siaran radio yang paling digemari oleh masyarakat dan acara yang tetap di
siarkan, yang memiliki keindahan tersendiri dalam syair-syairnya.
Karya
sastra lisan juga dapat disebut sebagai karya sastra “modern”, dikatakan tradisional karena terkadang dalam
penyampaiannya masih memegang teguh kaidah-kaidah lama yang ada berada di
masyarakat dan kaidah yang tentunya keras juga. Wayang juga bukan hanya wayang
kulit, namun ada wayang krucil dan wayang golek yang isi ceritanya berhubungan
dengan sastra klasik. Yang menjadi pakem (pegangan) pada pertunjukkan wayang adalah
bagaimana pertunjukan wayang itu dapat dilakonkan, dan apakah pertunjukan
wayang tersebut pernah dilakonkan.
Selain
wayang ada lagi pertunjukan Kentrung
dan Jemblung. Kentrung dan Jemblung
adalah nama dari iringan musik khusus untuk penceritaan khusus yang terdiri
dari rebana kecil dan besar, biasanya cerita berupa percintaan. Tradisi wayang
dan tradisi kentrung/jemblung adalah tradisi yang, yaitu tradisi yang hidup.
Selain itu ada juga wayang wong atau kethoprak dengan tujuan untuk menghibur
para tamu, dimainkan selama 3-4 jam. Wayang wong dimainkan oleh manusia dengan
mengikuti alur cerita yang ada pada wayang kulit atau wayang golek. Saat banyak
orang yang rumahnya hangus terbakar dan terkena wabah pes, lahir ketoprak
lesung dengan menyediakan sandiwara yang sederhana, di selingi oleh suara
kentrung dan kendang. Pementasan ketoprak dengan waktu dua minggu sekali, serta
dalam awal pementasan ditampilkan terlebih dahulu tari-tarian dan dilanjutkan
susunan rolnya sebagian besar dalam tembang macapat. Ketoprak lesung lahir
sekitar tahun 1924-1926 dan populer di daerah Yogyakarta.
Pada
tahun 1938 ketoprak lesung mengalami kemajuan yaitu hilangnya joget (penari)
dan di hapusnya pemeran wanita oleh pemain lelaki. Kemudian ketoprak lesung
juga berkembang membentuk bentuk baru yaitu ketoprak radio. Dengan ketoprak
radio, menandakan bahwa perkembang dalam hal kaset sudah mulai membaik, namun
dalam pementasan ketoprak radio agak mengabaikan tembang macapat dan lebih
mengedepankan dialog yang telah direncanakan. Adalagi pertunjukan selain
ketoprak yaitu ludruk, ada juga ludruk yang sudah punah yaitu ludruk besutan
yang dimainkan pada jam 12-3 dini hari. Ludruk memang khas dengan percakapan
bahasa jawa pada orang jawa timuran, kemudian ludruk merupakan teater yang
berupa lelucon atau teater jenaka.
Pada
saat kebangkitan sastra jawa modern, perkembangan pada masyarakat Jawa berawal
dengan lambat. Saat abad ke-19 banyak beberapa karya yang muncul namun dilluar
lingkup sastra tradisional. Surya Wijaya pernah menulis tiga karya yang di
susun dalam tembang macapat sebelum menulis karya “randa guna wecana”, namun
pada karya yang keempat Surya Wijaya berkolaborasi dengan Ki Padmasusastra
karena karya yang dihasilkan oleh Surya Wijaya bahasanya masih kaku. Kemudian
masih banyak lagi karya yang diluar sastra klasik.
Ranggawarsita
yang mempunyai nama asli Bagus Burhan tersebut dikenal sebagai sastrawan
Indonesia. Ranggawarsita yang tadinya sebagai ahli judi, kemudian pada tahun
1845 melahirkan karya-karya sastra. Hubungannya dengan Pakubuwana VII juga
sempat harmonis, ia juga dikenal sebagai peramal ulung dengan berbagai macam
ilmu kesaktian. Naskah-naskah babad cenderung bersifat simbolis dalam menggambarkan
keistimewaan Ranggawarsita seperti yang mengerti bahasa binatang, ini merupakan
simbol bahwa Ranggawarsita peka terhadap keluh kesah masyarakat.
Ki
Padmasusastra ialah tokoh yang terbesar dibidang pengajaran bahasa jawa, selain
membuat karya sastra murni, ia juga membuat bacaan yang sederhana. Ki
Padmasusastra (1843-1926) mencatatkan dirinya sebagai Bapak Sastrawan Jawa
Modern tetapi kerap terlupakan dan terpinggirkan. Pelupaan itu merupakan efek
dari opini publik yang percaya bahwa kesusastraan Jawa tamat oleh Ranggawarsita
sebagai pujangga terakhir keraton. Karya-karya Ki Padmasusatra tidak ada yang
dianggap novel kecuali Serat Rangsang Tuban. George Quinn (1992) menyebut Ki
Padmasusastra sebagai pengembara, wartawan, cendekiawan, guru, dan orang
terkucil. Sosok inilah yang kemudian muncul pembentukan novel Jawa modern,
masyarakat Jawa tidak terlalu minat dengan Novel kecuali yang diterbitkan oleh Pemerintah
seperti Balai Pustaka dan mulai membawa
buku-buku Novel kedalam deretan-deretan buku di Perpustakaan. Balai Pustaka
memberikan gambaran perkembangan buku
bahasa Jawa mulai pada tahun 1911, dengan melakukan penulisan nomor seri, tahun
terbit, jumlah halaman pada sampul buku bagian belakang.
Adalagi
tokoh sastrawan Indonesia yaitu Amir Hamzah, ia mempunyai nama asli Tengkoe
Amir yang lahir pada 28 Februari 1911 lahir di Tanjung Pura Sumatera Timur.
Amir memulai menulis pada saat remaja diperkirakan pada saat perjalanan ke
Jawa. Menggambarkan pengaruh budaya aslinya. Amir menulis 50 puisi, 18 puisi
prosa, dan beberapa karya lainnya termasuk terjemahan. Pada tahun 1932 Amir
medirikan majalah sastra Poedjangga Baroe dan setelah kembali ke Sumatera ia
berhenti menulis. Puisinya sering berisi konflik batin yang mendalam serta
menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Jawa.
Buku
juga bermacam-macam, ada yang tidak mementingkan moral, buku didaktik, buku
yang mengandung moral, dan buku yang berisi agak romantis.Salah satu karya
sejarah yaitu yang berjudul Bedahipun Karaton Nagari Ngayogyakarta. Buku yang
harus terbit dalam masyarakat harusnya buku yang mengandung moral, ilmu, dan
budi pekerti. Namun menurut para ahli Sastra Jawa beranggapan bahwa karya-karya
dari bangsa Barat hanya memberikan bacaan saja, tidak memberikan sebuah sastra.
Dari saat itu, dapat diartikan bahwa kelak akan muncul genre-genre baru dan
sampai saat sekarang.
Pada
saat peluncuran pertama buku “Serat Riyanta”, mulailah periode baru dengan buku
di dalamnya mengandung moral. Didalam buku tersebut menceritakan pemberontakan
kaum muda tentang perjodohan yang dilakukan oleh para orang tua. Buku
Jayengutara karya Mitra Musibat membahas tentang masalah lama masyarakat Jawa .
saluran yang sangat penting salah satunya yaitu majalah Panyebar Semangat yang
di terbitkan di Surabaya pada masa sebelum Perang Dunia II yaitu tahun 1933.
Sastra
itu termasuk dalam kesenian, kesenian juga bukan hanya sastra saja namun banyak
cabang seperti seni musik, seni tari, seni ukir, seni bangunan dan termasuk
seni sastra. Sastra juga digolongkan menjadi dua yaitu sastra lisan dan sastra
tulis. Semua itu masih diminati oleh para sastrawan tua namun sedikit sastrawan
muda yang mau menekuninya. Sastra juga tidak hanya berada di Jawa, sastra juga
terdapat di Bali. Di Bali sastra ditulis dengan media tembaga, daun lontar
dengan menggunakan aksara Bali sendiri. Namun dengan berkembangnya zaman dan
masuknya Belanda membuat sastra ditulis dengan menggunakan media kertas. Isi
dari sastra terebut mengenai kehidupan nenek moyang agar generasi muda sadar
akan kehidupan dulu, isinya juga bukan hanya itu melainkan tentang agama Hindu
di Bali dan juga adat Bali yang memang khas.
Pada
tahun 1861 muncul buku ciptaan Sasraharsana dengan buku berjudul Mrojol
Selaning Garu yang berisi tentang anak laki-laki yang ditinggal ibunya
meninggal dunia dan diasuh oleh pembantu rumah tangga keluarganya. Karangan
Imam Supadi merupakan suatu cerita yang menjembatani cerita-cerita babad dan
wayang yang sudah kuno tetapi masih dalam cerita fiksi roman modern. Padahal
cerita roman tersebut masih belum dianggap sebagai sastra. Penulis terbaik pada
tahun 1925-1930 adalah Asmawinangun, Asmawinangun membuat para pembacanya
terhipnotis oleh karyanya karena bahasanya enak, karyanya mendalam dan
dialog-dialognya yang hidup.
Selama
tahun tiga puluhan, perkembangan mulai pada periode sebelumnya, tak banyak yang
berubah dan tidak ada yang berhenti. Tulisan huruf latin yang dulunya hanya
ditulis pada cerita-cerita anak kecil menjadi lebih umum sekitar tahun 1925.
Bahasa ngoko yang dulunya ditulis pada buku cerita anak sekarang lebih menyebar
termasuk pada buku yang mengandung sastra.
DaftarPustaka
1.
Ras,
JJ 1985. BungaRampaiSastraJawaMutakhir,
Jakarta : Grafitipers
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMasih ada tulisan mengenai sastra Jawa Kuno (Mey Lusi)
BalasHapus